OVERVIEW-TEKNOLOGI PANGAN: SELAMAT HARI DUNIA MENENTANG PEKERJA ANAK. COVID-19 LINDUNGI ANAK-ANAK MENJADI PEKERJA ANAK DAN GIZI BURUK

e-Foodtech Future – Tahukah kamu bahwa hari ini (12 Juni) bertepatan dengan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak?  Pekerja Anak adalah anak yang melakukan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sehingga menghambat hak bermain dan belajarnya.

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak 2020 akan fokus pada dampak krisis terhadap pekerja anak. Pandemi kesehatan COVID-19 dan goncangan ekonomi dan pasar tenaga kerja yang dihasilkan memiliki dampak besar pada kehidupan dan mata pencaharian masyarakat. Sayangnya, anak-anak sering menjadi yang pertama menderita. Krisis ini dapat mendorong jutaan anak yang rentan ke dalam pekerja anak. Sudah ada sekitar 152 juta anak dalam pekerja anak, 72 juta di antaranya dalam pekerjaan berbahaya. Anak-anak ini sekarang menghadapi risiko yang lebih besar untuk menghadapi keadaan yang bahkan lebih sulit dan bekerja dengan jam kerja lebih lama.

Anak-anak di seluruh dunia secara rutin terlibat dalam bentuk pekerjaan yang dibayar dan tidak dibayar yang tidak berbahaya bagi mereka. Namun, mereka diklasifikasikan sebagai pekerja anak ketika mereka terlalu muda untuk bekerja, atau terlibat dalam kegiatan berbahaya yang dapat membahayakan perkembangan fisik, mental, sosial atau pendidikan mereka. Di negara-negara yang paling kurang berkembang, sedikit lebih dari satu dari empat anak (usia 5 hingga 17) terlibat dalam pekerjaan yang dianggap merusak kesehatan dan perkembangan mereka.

Pemerintah Indonesia sudah, sedang, dan terus melakukan langkah-langkah untuk mempercepat terwujudnya peta jalan Indonesia bebas pekerja anak tahun 2022. Antara lain dengan kegiatan Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) dan Pencanangan Zona Bebas Pekerja Anak. Salah satunya melalui kegiatan Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).  Sinergi antara beberapa pihak diperlukan untuk mengurangi pekerja anak. Program Keluarga Harapan 2020, Diprioritaskan pada Gizi buruk.

Kavadya Syska, Koordinator Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto menyampaikan bahwa Program Studi Teknologi Pangan memiliki kepedulian dan konsen untuk abak-anak melalui edukasi pangan sehat untuk anak. Gerakan pangan sehat bisa dimulai dari keluarga, hal ini sangat penting karena mengonsumsi pangan sehat dapat memengaruhi perkembangan otak dan kecerdasan anak. Gerakan pangan sehat akan mendukung upaya penyiapan sumber daya manusia Indonesia yang tangguh, produktif, dan mampu bersaing di era revolusi industri 4.0 serta menyongsong Indonesia emas 2045.

Sumber: wawancara dan olah pustaka

Teknologi Pangan: Kreatif, Inovatif, Luar Biasa
Teknologi Pangan: Developing Creative and Innovative Future

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *